Kosmopolitan.id, Jakarta — Film dokumenter Pesta Babi yang mengupas eksploitasi alam proyek Food Estate di Merauke, Papua Selatan, terus memicu kontroversi panas. Setelah sebelumnya diwarnai aksi intimidasi aparat saat acara nonton bareng (nobar), kini film tersebut menghadapi gugatan hukum dari tokoh utamanya sendiri, Yasinta Moiwend alias Mama Yasinta.
Dilansir dari BBC News, pejuang lingkungan sekaligus tokoh adat Suku Malind ini mendatangi Polda Metro Jaya pada Jumat (29/5/2026). Didampingi kuasa hukumnya, Mama Yasinta melaporkan Direktur LBH Pos Merauke, John Teddy Wakum, atas dugaan pelanggaran UU Perlindungan Data Pribadi karena merasa wajahnya dicatut tanpa izin.
“Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati. Tanpa izin dari saya. Dihentikan! Mulai dari hari ini dihentikan!” tegas Mama Yasinta di markas kepolisian.
Perubahan sikap peraih S.K. Trimurti Award 2025 ini mengejutkan publik. Setelah bertahun-tahun vokal menentang penggusuran tanah adat, Mama Yasinta kini menyatakan keluar dari LBH dan memilih mendukung pihak perusahaan demi mencari pekerjaan dan memperbaiki rumahnya.
“Saya tetap di pihak perusahaan sekarang, tidak seperti dulu lagi karena dulu itu saya dimanfaatkan, saya diajak oleh orang-orang LBH,” akunya dalam video yang sempat viral di media sosial.
Menanggapi laporan polisi dan perubahan sikap yang drastis ini, sutradara Dandhy Dwi Laksono bersama tim kolaborator film menyatakan tetap menghormati keputusan tersebut, sembari menyentil pihak-pihak yang tiba-tiba memfasilitasi laporan hukum ini.
“Waktu tanah ulayatnya diambil tanpa izin, mereka tak datang menjemput dan mengantarnya ke Jakarta untuk lapor polisi. Kami hormati pilihan Mama Yasinta. Sebagaimana kami menghormati hak setiap orang untuk tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di Papua,” ujar Dandhy Dwi Laksono.
Tim kolaborator yang terdiri dari Watchdoc, Greenpeace, hingga LBH Papua juga meminta masyarakat untuk tidak menghakimi sang tokoh adat.
“Kami menghormati apa pun sikap Mama Yasinta saat ini dan meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi beliau, sembari kami masih berusaha memahami apa yang terjadi dengan perubahan pilihan sikap ini,” tulis pernyataan bersama tim kolaborator.
Hingga saat ini, pihak pembuat film mengaku masih kesulitan menemui Mama Yasinta secara langsung, sementara pihak LBH Pos Merauke yang dilaporkan menyatakan akan segera mengambil sikap resmi. (Redaksi)





