Kosmopolitan.id, Samarinda – Uji coba terowongan pertama di Kota Samarinda sebentar lagi akan segere berlangsung. Terowongan yang membentang di Jalan Sultan Alimuddin menuju Jalan Kakap ini dipastikan telah rampung, dengan total anggaran tak kurang dari Rp 400 miliar.
Meski sempat menuai pro kontra dari masyarakat yang terdampak, namun satu persatu permasalahan telah teratasi. Kini Pemkot Samarinda tengah mempersiapkan uji kelayakan terowongan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Terowongan Samarinda, Rezky Samudra Aprilyan mengakui sebelumnya, pihaknya sempat berencana menggandeng pihak swasta untuk mengaudit kelayakan Terowongan Samarinda. Namun hal itu dipastikan berubah total, setelah pihaknya berkonsultasi dengan Balai Keamanan Jembatan dan Terowongan Khusus (BKJTK) yang dinaungi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
“Mereka merekomendasikan proses pengujian teknis diserahkan kepada perguruan tinggi negeri yang memiliki kompetensi dan pengalaman spesifik di bidang keselamatan terowongan,” ungkapnya, Minggu (30/5/2026).
Padahal sebelumnya, Rezky mengungkapkan bahwa tim teknis bentukan Pemkot Samarinda sebenarnya telah melangkah jauh dengan menyusun dan menyerahkan proposal pengujian kepada sebuah lembaga swasta. Namun, setelah melalui forum rapat koordinasi dan evaluasi mendalam bersama pihak BKJTK, cetak biru pengujian tersebut harus dirombak demi mengutamakan unsur independensi dan keahlian akademis.
Merespons arahan langsung dari kementerian tersebut, Dinas PUPR Kota Samarinda langsung bergerak cepat melakukan komunikasi intensif dengan sektor akademis. Tercatat, ada tiga perguruan tinggi negeri papan atas di Indonesia yang langsung diajak berdiskusi, yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Meski melibatkan tiga kampus elite, Pemkot Samarinda bersikap sangat selektif. Berdasarkan hasil pemetaan kompetensi, UGM mencuat sebagai kandidat paling potensial dan dinilai paling siap. Hal ini dikarenakan UGM memiliki portofolio serta rekam jejak nyata yang tidak dimiliki kampus lain, yakni pengalaman langsung dalam melaksanakan uji keselamatan pada proyek infrastruktur Terowongan Ijo, yang merupakan bagian dari jalur kereta api nasional.
“Sejauh ini yang memiliki pengalaman melakukan pengujian terowongan secara langsung memang UGM,” jelas Rezky secara transparan.
Nantinya, dokumen proposal yang diajukan oleh pihak kampus tidak sekadar formalitas di atas kertas. Dokumen tersebut akan memuat rincian metodologi pengujian yang komparatif, penentuan titik-titik krusial pemasangan sensor struktur, hingga standarisasi parameter teknis yang ketat untuk mengukur sejauh mana kelayakan operasional terowongan dari segala aspek risiko.
Di sisi lain, proses audit keselamatan ini dipastikan akan berjalan secara objektif dan menyeluruh. Rezky menegaskan bahwa Pemkot Samarinda berkomitmen pada aspek keterbukaan informasi publik. Seluruh dinamika dan kendala yang sempat terjadi selama masa konstruksi termasuk insiden longsoran lereng di sekitar kawasan terowongan beberapa waktu lalu telah dibeberkan secara gamblang tanpa ada fakta teknis yang disembunyikan dari tim ahli BKJTK.
“Termasuk kami juga memaparkan perhitungan desain struktur yang mampu mengantisipasi pergeseran tanah,” tutupnya. (Redaksi)







