Don't Show Again Yes, I would!

Lapak Banyak Kosong di Pasar Tradisional, Rusdi Doviyanto: Ini Cermin Ketimpangan

Sekretaris Komisi II DPRD Kota Samarinda, Rusdi Doviyanto

Kosmopolitan.id, Samarinda – Fenomena menjamurnya pasar tumpah dan semakin banyaknya lapak kosong di pasar tradisional Samarinda menjadi sorotan serius. Bagi Sekretaris Komisi II DPRD Kota Samarinda, Rusdi Doviyanto, situasi ini mencerminkan bahwa pengelolaan pasar belum mampu menjawab dinamika kebutuhan para pedagang di lapangan.

Menurutnya, banyaknya lapak yang tak terisi bukan semata karena pedagang enggan menempati, melainkan lebih karena mereka merasa lokasi di luar pasar memberi peluang usaha yang lebih menjanjikan.

“Pedagang melihat potensi pembeli lebih besar di pinggir jalan. Ini jadi sinyal bahwa tata kelola pasar belum sesuai dengan perilaku konsumen saat ini,” ujar Rusdi.

Data dari Dinas Perdagangan mencatat lebih dari 1.000 lapak di pasar-pasar utama seperti Pasar Segiri, Sungai Dama, Pasar Merdeka dan Pasar Pagi saat ini dibiarkan kosong. Sementara itu, aktivitas jual beli justru ramai di area luar pasar yang tidak semestinya digunakan untuk berdagang.

Rusdi menilai bahwa ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada kesemrawutan dan kemacetan lalu lintas, tetapi juga menyebabkan kebocoran potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi pasar yang tidak maksimal.

“Kalau dibiarkan, pasar resmi bisa kehilangan fungsinya. Padahal itu aset daerah yang seharusnya mendatangkan manfaat,” ucapnya.

Karena itu, ia menegaskan pentingnya penataan ulang yang menyeluruh, bukan sekadar menertibkan pedagang liar. Salah satunya melalui pembentukan Peraturan Daerah (Perda) khusus yang tengah dirancang oleh Komisi II.

“Perda ini bukan cuma soal aturan jualan di tempat resmi, tapi juga soal bagaimana kita menyediakan ruang yang adaptif, fasilitas yang layak, dan sistem pasar yang lebih modern,” jelasnya.

Rusdi juga mendorong agar pendekatan sosial lebih diutamakan. Ia menekankan bahwa solusi penataan pasar tidak boleh merugikan pedagang kecil yang justru menggantungkan hidup dari ruang-ruang informal itu.

“Jika pasar dibuat lebih nyaman, sistemnya dibenahi, dan pedagang difasilitasi dengan teknologi, saya yakin mereka akan kembali. Masyarakat pun lebih percaya belanja di pasar,” pungkasnya. (ADV/DPRD/SAMARINDA) 

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Space Iklan Disewakan