Don't Show Again Yes, I would!

Aroma Dapur

Khoirun Nisa

Ajeng seperti memamah makanan hambar setiap harinya. Meski tak suka, harus ia lakukan untuk bertahan hidup. Begitulah Ajeng menjalani rutinitasnya yang melelahkan dan membosankan. Seminggu belakangan, ia begitu merasa kelelahan meski tak melakukan aktivitas yang berat. Nafsu makannya menurun, ia mengalami batuk terus menerus, hingga indra perasa dan penciumannya kemudian mengilang, bersamaan dengan hilangnya semangat melakukan segala aktivitas.

Beberapa suara dari teman dan kenalan Ajeng yang mengetahui kondisinya menyarankannya untuk periksa ke puskesmas, barangkali ia positif Covid-19. Namun Ajeng enggan, selain karena ia malas untuk keluar rumah, ia juga tak menderita demam. Sehingga baginya, ia hanya perlu banyak berolahraga dan mengurangi aktivitas tidurannya yang cukup banyak.

Siang itu ia duduk sendiri di sofa. Menatap kosong pada foto keluarga yang terpasang cukup besar menjadi hiasan sentral salah satu sisi dari dinding di ruang tamu itu. Pigura ukir ukuran 60×84 berisikan foto Ajeng bersama Pak Sugianto, Bu Hanna, Mas Adi dan Mas Abi. Pikirannya menerawang ke belakang. Ia rindu sosok ibunya. 

“Belajar masak iku yo mulai dari saiiki, jadi nantipas wes dewasa wes terbiasa. Mau belajar kapan lagi toh?,” kalimat Bu Han dengan logat jawa yang kental itu begitu memenuhi isi kepalanya saat ini.

Biasanya ia selalu menghindar ketika diminta bantuan untuk memasak, memberi alasan tugas kuliah yang menumpuk atau urusan penting yang tidak bisa ia tinggalkan. Baginya saat ini bukanlah masa yang tepat untuk belajar memasak, apalagi dengan banyaknya tersedia resep dan video memasak di internet, pikirnya akan membuatnya bisa memasak dengan sendirinya.

Tapi kali ini berbeda, hampir satu bulanan ini Ajeng yang tak suka memasak itu, terpaksa harus memasak untuk makan ‘orang rumah’ setiap hari. Sebagai satu-satunya anak perempuan dalam keluarga Jawa, tentu saja Ajeng dituntut menggantikan peran ibunya dalam mengurus rumah ketika sang ibu tidak di rumah. Ia harus memasak untuk ayah dan dua kakak laki-lakinya. 

Sebulan lalu Bu Han terbang ke Jawa, menuju salah satu desa di sana yang merupakan rumah kelahirannya, niatnya melihat kondisi mbah Ajeng yang katanya kurang baik. Pergi di saat pandemi Covid-19 begini memang penuh dilema, dengan berbagai pertimbangan dan tanda bakti kepada sang ibu, ia akhirnya pergi juga. 

Nahas ketika akan kembali pulang, kebijakan PPKM yang belum lama diterapkan itu menjebaknya di sana. Untuk menggunakan transportasi pesawat sendiri semakin sulit, hasil Tes PCR dan surat vaksinasi menjadi persyaratan administrasi utama.

Sementara biaya tes PCR sendiri cukup tinggi, ditambah sulitnya mendapat vaksinasi di desa yang belum terfasilitasi vaksin di setiap puskesmas, berbagai penolakan dari program vaksin juga diterima karena Bu Han ber-KTP Kalimantan, juga perpanjangan PPKM yang tiada habis membuat Bu Han yang baru belajar menggunakan WhatsApp itu begitu kebingungan.

Ajeng sendiri meski fasih menggunakan media sosial, ia tak juga bisa diandalkan. Ia telah menutup mata dan telinga terkait beragam informasi Covid-19 yang sempat membuatnya begitu muak. Ia sendiri menjalani hari-harinya tanpa gairah. Kedua saudara laki-lakinyalah yang kemudian diharapkan dapat membantu akses pulang ibu mereka.

Dalam kondisi seperti ini, segala momentum terasa seperti hari biasa. Begitu pula pada perayaan Iduladha hari ini. Sebelumnya Ajeng selalu antusias ketika hari raya kurban ini tiba. Bisa menikmati olahan daging dengan harganya yang mahal tanpa harus menguras uang belanja ibu. Biasanya di siang seperti ini, Ajeng sudah riset berbagai macam menu olahan daging di internet yang bisa ia tawarkan kepada ibu untuk dimasak.

Lagi-lagi kali ini berbeda, ia justru harap-harap cemas. Pada Iduladha setiap tahunnya Pak Sugi tak pernah absen sebagai panitia kurban di masjid terdekat, setiap tahunnya pula tak ketinggalan selalu membawa banyak bagian kurban, mulai dari daging, kaki-kaki kambing atau sapi, kepala kambing, hingga jeroan, dan setiap tahunnya Bu Han dengan telaten mengolah semua bagian menjadi masakan yang lezat. Mengingat kebiasaan itu dan tiadanya ibu di rumah membuat Ajeng begitu cemas, ia berharap Pak Sugi hanya pulang membawa daging saja tanpa bagian-bagian lainnya, sebab dengan terpaksa ia harus bersinggungan dengan bagian-bagian kurban untuk dimasak.

Ajeng begitu ingin menangis ketika melihat Pak Sugi pulang pada sore harinya. Bukan hanya dua kantong daging yang dibawa, dua karung besar juga datang menyusul dibawa oleh kedua masnya itu. Ketika dibuka, benar saja satu karung berisi kaki dan kepala kambing, dan satu lagi berisi jeroan. Ajeng menyambut mereka dengan menggerutu di ambang pintu sembari menatap jijik pada kedua karung itu.

“Kenapa itu dibawa sih, siapa yang mau masak coba. Ajeng nggak mau yaa nyentuh-nyentuh itu, apalagi harus masak. Mas aja tuh suruh masak.”  

Pak Sugi hanya tersenyum melihatnya, ia hanya ingin Ajeng belajar memasak dan memiliki aktivitas lebih yang akan membantunya cepat pulih. Mas Adi dan Mas Abi yang berdiri di belakang Pak Sugi justru menatap Ajeng dengan tatapan penuh kebahagiaan karena akan melihat Ajeng menggerutu di dapur. Di wajah mereka seolah tertulis hahaha rasain tuh, masak yang enak yo!.

Melihat hal itu, Ajeng semakin kesal dan melongos ke dalam. Selain karena ekspresi kedua masnya itu, Ajeng juga tak kuasa melihat lama pada karung tadi dan tak sanggup membayangkan bagaimana ia harus menyentuh dan memasak semua itu.

Iki lho gampang Jeng, nanti beli bumbu jadi ae biar nggak repot.” Hibur Pak Sugi sebelum Ajeng Melongos masuk. Mendengar hal itu mungkin akan terlihat lebih mudah, tapi bagi Ajeng yang tak suka memasak? Ia hanya ingin ibunya segera pulang.

Malam itu, seluruh daging berhasil masuk ke dalam freezer, kaki dan kepala sudah dibakar dan dikuliti oleh Pak Sugi sore tadi usai urusan kurban di masjid beres, Ajeng tak ambil bagian, tentu saja ia tak suka melakukannya. Bahkan melihatnya pun Ajeng begitu enggan.

Keinginannya untuk makan daging setelah sekian lama mendorongnya untuk bereksperimen di dapur. Esoknya Ajeng mencoba memasak daging yang ia bisa, berbekal resep dari internet dan telepon dengan Bu Han, ia mempraktikkannya sesuai instruksi.

Masakan bistik dan semur daging berhasil ia coba meski rasanya seperti masih ada yang kurang, yah setidaknya masih bisa dimakan kan. Hal itu berlangsung selama beberapa hari, ia juga memasak daging bersama sayur sop, kuah bakso hingga dadar daging.

Ajeng mulai menikmati eksperimennya itu, kesehatannya pun berangsur membaik, ia mulai berselera untuk makan dan indra perasanya perlahan kembali. Hanya tersisa batuk sesekali dan indra penciuman yang masih hilang. Tapi ia juga senang, tanpa bisa merasakan aroma, Ajeng akan lebih mudah mengolah kaki ataupun kepala yang telah melalui serangkaian proses seperti dibakar, direbus dan dikuliti hingga siap untuk dimasak.

Melihat minat Ajeng yang meningkat, Pak Sugi merequest masakan favoritnya kepada Ajeng, gulai kepala dan soto babat, dua menu yang selalu dihindari oleh Ajeng setiap tahunnya. Ajeng ingin menolak, Ajeng lebih suka jika disuruh memasak bakso, atau rendang dengan daging yang menurutnya tidak aneh. Namun usai masakan-masakannya yang berhasil, kali ini ia juga ingin mencobanya, apalagi Pak Sugi akan membeli bumbu instant agar Ajeng tak kesulitan.

Ajeng membaca setiap detail yang telah ia catat, hasil risetnya dari internet juga instruksi dari Bu Han. Ajeng terlihat begitu serius dalam memasaknya kali ini, ia tak ingin ada kesalahan. Namun ia terganggu dengan kedua masnya yang bolak-balik keluar-masuk dapur tanpa alasan.

Sesekali ketika melewati Ajeng, Mas Adi mengacak rambut Ajeng dan menyemangatinya sambil tertawa. Mas Ebi yang sebelumnya membantu memotong-motong kepala menjadi bagian-bagian kecil juga tak kalah menyebalkan, ia berkali-kali membuka panci untuk melihat apakah sudah masak atau belum.

“Mana sih Jeng, suwine masak gulai tok,” celoteh Mas Ebi

“Maaaasss, menengo tah nek gamau bantuin,” jerit Ajeng dengan kesal. Sementara kedua masnya hanya tertawa cekikikan.

Gulai kepala itu akhirnya selesai juga, yah, sama seperti masakan Ajeng sebelumnya, rasanya kurang nendang, meski begitu masakannya ludes termakan juga.

Belum selesai kelegaannya, ia masih harus memasak soto babat esok harinya. Di tengah risetnya terhadap resep soto babat di internet, Ajeng merasa keheranan, ia masih tak habis pikir mengapa orang tuanya begitu suka makanan dengan olahan isi perut hewan, padahal masih begitu banyak bagian daging yang lebih enak dan aman dikonsumsi.

“Soto babat iki yo makanan legendaris, makanan paling mewah pas Bapak kecil,” cerita Pak Sugi ketika melihat Ajeng begitu serius mencari resep.

“Ajeng tok emang yang paling aneh, makanan enak kok ga suka,” sahut Mas Abi.

“Apa sih Mas,”

“Dasar anak jaman sekarang, senenge pizza karo burger,” kali ini Mas Adi yang menimpali.

Jika tak sedang serius, Ajeng pasti sudah membalas celotehan kedua masnya itu dan melemparnya dengan sesuatu yang ada di dekatnya.

“Soto babat iki yo makanan sejak penjajahan pas jaman mbahnya bapak dulu. Katane mbah, kan hargane daging mahal, orang belanda juga jijik sama jeroan. Tapi rakyat Indonesia dulu isok nyulap babat jadi makanan mewah terus uenak,” lanjut Pak sugi.

“Dulu kalo wes dimasakin soto babat yo sueneng banget, wes kayak makan daging mahal. Tapi saiki malah wes banyak di jual, banyak jenisnya, wes naik kasta.”

“Ajeng kan wong londo..” sahut Mas Abi sambil tertawa dengan Mas Adi.

“Biarinlah kalo wong londo, lapo? Mas Iri kaann?,” balas Ajeng sembari meninggalkan ruang tamu, kesal dengan kedua masnya yang selalu mengganggu.

Baru melihat rupanya saja Ajeng rasanya ingin mual, namun ia tahan demi mengurangi volume daging di kulkas. Meski tak suka dan tak akan ikut memakan, Ajeng kemudian memasak juga usai riset resepnya semalam selesai.

Ajeng bersyukur dengan indra penciumannya yang belum kembali, membuatnya berani menyentuh lambung sapi yang bertekstur itu tanpa merasakan aromanya. Rencana menggunakan masker atau kain penutup hidung pun ia urungkan.

Dikeluarkanlah jeroan berupa babat itu dari freezer kemudian diletakkan di wastafel untuk dicuci. Tiba-tiba saja Ajeng seperti mencium aroma. Seperti aroma daging namun terasa amis. Beberapa detik usai kepala Ajeng mencerna yang terjadi, Ajeng segera berlari menuju kamar mandi. Ia mual-mual, kemudian berhasil muntah. Sial! Tiba-tiba saja penciumannya pulih di saat yang tidak tepat.

Ia berteriak sedikit menangis dalam hati. Jangan suruh Ajeng masak jeroan lagi!.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Space Iklan Disewakan