Kosmopolitan.id, Samarinda – Keluhan warga soal kendaraan bermotor yang mendadak brebet belakangan ini sempat menimbulkan kepanikan kecil, terutama setelah Lebaran. Meskipun situasi terlihat mulai tenang, kekhawatiran masih tersisa lantaran belum ada jaminan kualitas BBM di SPBU sudah benar-benar aman.
Menanggapi keresahan itu, Pemerintah Kota Samarinda akhirnya mengumumkan hasil uji laboratorium yang dilakukan secara independen. Pengujian melibatkan akademisi dari kampus di Kalimantan Timur dan Jawa, dan menyasar BBM yang diduga jadi biang masalah.
Sampel BBM dari terminal Patra Niaga, SPBU di Jalan Slamet Riyadi, serta SPBU di Jalan APT Pranoto diperiksa pada 12 April lalu. Hasil awal menunjukkan BBM di lokasi tersebut sesuai standar. Namun, warga belum sepenuhnya percaya, mengingat kasus motor brebet terus bermunculan meski pengujian dinyatakan aman.
Uji lanjutan pun dilakukan terhadap tiga motor warga yang mengalami brebet. Ketiganya menggunakan BBM jenis Pertamax. Di sinilah temuan yang mencemaskan muncul: dua dari tiga kendaraan itu menunjukkan kadar oktan jauh di bawah standar Pertamax (RON 92). Bahkan satu motor hanya mencatat RON 86,7.
Lebih lanjut, sampel BBM dari motor yang RON-nya paling tinggi diuji kembali. Hasilnya mengejutkan: terdapat timbal sebanyak 66 PPM, disertai kandungan air dan senyawa aromatik yang bisa merusak sistem pembakaran.
“Bukan masalah tangki kotor, tapi karena bahan bakarnya memang tidak layak,” kata Wali Kota Samarinda, Andi Harun.
Hasil uji laboratorium ini nantinya akan segera diserahkan ke aparat penegak hukum. Pasalnya ia menyadari kapasitas Pemkot Samarinda dinilai sudah cukup sampai pada penyerahan bantuan hingga menguji kandungan BBM yang beredar di masyarakat.
Dosen kimia dari Politeknik Negeri Samarinda Alwathan, yang ikut dalam tim penguji, menambahkan bahwa timbal seharusnya tidak lagi digunakan sebagai aditif pada BBM, sesuai regulasi Dirjen Migas sejak 2006.
“Kalau masih ditemukan timbal, itu jelas pelanggaran,” tegasnya.
Masyarakat selama ini cenderung menilai BBM hanya dari warnanya: hijau untuk Pertalite, biru untuk Pertamax, dan merah untuk Pertamax Turbo. Namun, Alwathan menekankan bahwa warna tidak bisa dijadikan patokan. Yang berbahaya adalah kandungan tersembunyi di dalamnya.
Meski BBM yang diuji pada 12 April dinyatakan aman, warga tetap diminta untuk waspada dan aktif mengawasi kondisi BBM di SPBU.
“Kalau warnanya keruh, berarti ada endapan dan itu patut dicurigai,” pungkasnya. (Redaksi)







