Don't Show Again Yes, I would!

Perlu Dorongan, Latisi: Sosok Ayah Harus Hadir Bukan Hanya Mencari Nafkah 

Anggota Komsi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi

Kosmopolitan.id, Samarinda – Banyak anak tumbuh bersama sosok ayah di rumah, namun tidak benar-benar merasakan kehadirannya. Situasi ini disoroti oleh Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, yang menilai bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan kerap hanya terbatas secara fisik dan finansial, bukan emosional.

Dirinya menekankan pentingnya keterhubungan emosional antara ayah dan anak sebagai bagian dari pondasi kesehatan mental anak. Bukan hanya soal hadir saat penting saja, tapi juga hadir dalam keseharian.

“Saya sering lihat, anak punya ayah tapi secara psikologis jauh. Yang lebih sering diajak ngobrol malah handphone, bukan orang tuanya,” ucapnya. Pernyataan itu disampaikannya dalam menanggapi program “Hari Pertama Ayah Mengantar Anak ke Sekolah” yang digagas Dinas Pendidikan.

Menurutnya, kegiatan tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tapi menjadi pengingat tentang makna kehadiran ayah dalam kehidupan anak.

Ia menyebut, kualitas hubungan ayah-anak bisa terbentuk dari interaksi sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti mengantar anak ke sekolah, berbincang di pagi hari, atau sekadar menyemangati sebelum belajar.

“Momen kayak gitu sepele kelihatannya, tapi bisa jadi waktu paling hangat buat anak. Bisa masukin nasihat, doa, kasih energi positif sebelum mereka ke sekolah,” jelasnya.

Meski tahun ini tidak bisa menemani anaknya di hari pertama sekolah karena penugasan luar kota, Latisi mengaku selalu berusaha mengantar anaknya di hari-hari biasa. Menurutnya, itu bukan hanya kewajiban sebagai orang tua, tapi bentuk keterikatan emosional yang penting untuk dibangun.

Ia pun mendorong para ayah untuk tidak menyerahkan urusan pengasuhan sepenuhnya kepada ibu. “Kita sering lupa, yang namanya ayah itu bukan cuma pencari nafkah. Anak juga butuh didengar, dipeluk, diajak bicara oleh ayahnya,” tambahnya.

Bagi Latisi, pendidikan karakter dan ketahanan psikologis anak bermula dari rumah. Ketika ayah dan ibu hadir secara utuh, anak akan merasa dicintai dan dihargai, sehingga tumbuh lebih percaya diri dan punya relasi yang sehat dengan sekitarnya.

“Inisiatif kayak gini harusnya bukan setahun sekali. Harusnya jadi alarm bahwa kita, para ayah, memang perlu hadir penuh, bukan setengah-setengah,” pungkasnya. (ADV/DPRD/SAMARINDA) 

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Space Iklan Disewakan