Don't Show Again Yes, I would!

Pertengahan Baru Dimulai, Adaptasi Sekolah Rakyat Dilaksanakan Bertahap

Gedung Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) di Jalan Cipto Mangunkusumo menjadi lokasi pelaksanaan Sekolah Rakyat di Samarinda. (Foto Istimewa)

Kosmopolitan.id, Samarinda – Belum rampungnya bangunan utama Sekolah Rakyat tak menghentikan niat pemerintah untuk segera memulai kegiatan pendidikan. Sambil menunggu proses pembangunan, gedung milik Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) di Jalan Cipto Mangunkusumo sementara dijadikan tempat belajar dan asrama untuk jenjang SMP dan SMA. Sedangkan siswa SD ditempatkan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di Jalan Untung Suropati.

Sebanyak 100 anak dari berbagai latar belakang sosial terdata sebagai peserta awal program ini, terbagi rata untuk empat rombongan belajar: dua tingkat SMP dan dua tingkat SMA. Namun target awal pembukaan pada 4 Agustus harus ditunda hingga 15 Agustus. Belum siapnya fasilitas asrama menjadi penyebab utama.

“Waktu kami tinjau minggu lalu, bangunan asramanya masih kosong. Perabot seperti tempat tidur baru datang dan belum dirakit sepenuhnya,” tutur Riza Azri, Wali Asrama Sekolah Rakyat, Jumat (1/8/2025).

Sebelum kegiatan akademik dimulai, para siswa akan melewati masa pengenalan dan penyesuaian lingkungan selama kurang lebih dua bulan. Tidak ada seleksi nilai dalam penerimaan peserta didik di sekolah ini. Yang menjadi syarat utama adalah kondisi ekonomi keluarga.

“Yang kami terima adalah anak-anak dari keluarga paling rentan, terutama yang masuk kategori penerima PKH,” ungkap Maria Pardede, Wali Asuh Sekolah Rakyat.

Data siswa diteruskan dari pusat berdasarkan status penerima bantuan. Anak-anak ini telah lebih dulu mendapat tawaran untuk melanjutkan sekolah lewat program ini, dan mayoritas keluarga merespons positif.

“Kami tidak hanya melihat datanya, tapi juga turun langsung ke rumah. Penting memastikan anak dan orang tua memang bersedia, agar tidak terjadi penolakan di tengah jalan,” jelas Maria.

Sekolah berasrama menjadi pengalaman baru bagi sebagian besar peserta didik. Di sinilah peran wali asuh menjadi sentral, mendampingi anak-anak melewati masa transisi.

“Kalau di kelas ada guru, tapi begitu mereka keluar kelas, kami yang hadir untuk mereka. Mereka biasanya lebih terbuka menyampaikan hal-hal pribadi kepada kami,” lanjutnya.

Sebanyak 11 wali asuh disiapkan untuk bertugas secara bergilir. Aktivitas keseharian siswa diatur mengacu pada standar Kementerian Sosial, mulai dari waktu makan, tidur, hingga rutinitas harian.

Meskipun demikian, tidak semua orang tua langsung merasa tenang. Beberapa menyuarakan kegelisahan karena ini adalah kali pertama anak mereka tinggal jauh dari rumah.

“Kekhawatiran itu wajar. Tapi lewat pendekatan bertahap, anak-anak bisa belajar mandiri sekaligus beradaptasi dengan lingkungan barunya,” ucap Maria.

Di sisi lain, kebutuhan akan tenaga pengajar masih belum sepenuhnya terpenuhi. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Indra Bagus Yudistira, mengungkapkan bahwa dari total kebutuhan 17 guru, baru tersedia 12 orang.

“Hanya dua guru yang berasal dari Samarinda. Sisanya dari luar daerah, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur,” sebut Indra.

Ia menambahkan, pemetaan minat dan bakat siswa akan dilakukan pada 15 Agustus secara daring, menggunakan NIK dan alamat email siswa. Sekolah akan memfasilitasi pembuatan email bagi siswa yang belum memilikinya.

“Kami akan mulai dari talent mapping dulu, supaya bisa menyusun pendekatan belajar yang sesuai dengan potensi anak,” kata Indra.

Sementara itu, perangkat teknologi yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar belum tersedia. Padahal, metode pembelajaran yang dirancang cukup bergantung pada akses digital.

“Idealnya ada tablet atau komputer untuk mendukung pembelajaran. Saat ini belum tersedia, tapi kami upayakan bisa segera terpenuhi,” pungkas Indra. (Redaksi) 

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Space Iklan Disewakan