Kosmopolitan.id, Samarinda – Laju penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) di Samarinda kini bergerak mengikuti satu tahapan yang menjadi penentu: penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Di tahap inilah seluruh proses penyediaan makanan disaring, sebelum satu pun dapur diizinkan memproduksi menu untuk siswa.
Hingga akhir November, 16 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah melewati penyaringan tersebut. Data Dinas Kesehatan menunjukkan mereka telah menjalani tiga pemeriksaan kunci: kondisi kesehatan penjamah, inspeksi sanitasi, dan pelatihan pengolahan makanan aman. Sementara sisanya masih dalam antrean verifikasi serta melengkapi berkas wajib.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih, menegaskan bahwa SLHS adalah instrumen yang memastikan MBG tidak sekadar berjalan, tetapi berjalan aman. “Tidak ada SPPG yang kami tandatangani tanpa memenuhi tiga syarat itu,” tegasnya.
Dari total 34 SPPG terdaftar, 24 sudah mulai memproduksi dan menyalurkan makanan. Namun prosesnya tetap berada dalam pemantauan ketat, karena tenaga kesehatan lingkungan dari puskesmas harus memeriksa setiap dapur sebelum dan setelah beroperasi. “Mereka juga yang memberikan pelatihan penjamah makanan, supaya standar higienitas terjaga,” tambah Ismed.
Pemeriksaan kadar air, kebersihan ruang pengolahan, hingga kesiapan tenaga dapur menjadi indikator utama sebelum dapur dianggap laik. Beberapa pelatihan sempat didanai Dinas Kesehatan untuk menjaga percepatan tetap berjalan, terutama ketika efisiensi anggaran diberlakukan.
Saat ini, sebaran 24 SPPG aktif di 10 kecamatan dinilai cukup merata. Kondisi itu memungkinkan pengawasan dilakukan lebih sistematis sebelum SLHS berikutnya diterbitkan. “Dengan pengawasan lapangan yang rutin, standar kesehatan tetap konsisten,” tukas Ismed. (Redaksi)







