Kosmopolitan.id, Samarinda – Kerusakan bangunan kembali menegaskan timpangnya fasilitas pendidikan dasar di Kota Samarinda. Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur kawasan Samarinda Utara pada Sabtu (2/8/2025) menyebabkan ambruknya atap ruang kelas di SDN 020 Samarinda, Jalan Wahid Hasyim I, Kelurahan Sempaja Selatan.
Meski tidak menimbulkan korban karena terjadi di luar jam sekolah, salah satu ruang kelas harus ditutup sepenuhnya. Dampaknya, murid kelas 1 yang baru memasuki tahun ajaran baru tak bisa mengikuti pembelajaran tatap muka, dan sejak Senin (4/8/2025) terpaksa belajar daring.
Kepala SDN 020, Kardi, mengatakan kondisi ruang kelas 1 bukan satu-satunya yang memprihatinkan. “Kebocoran plafon sudah terjadi di lima ruang lainnya. Tapi kami masih usahakan kelas lain tetap berjalan seperti biasa,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa secara keseluruhan, kondisi fisik SDN 020 memang belum memadai. Dari tujuh ruang kelas yang ada, sebagian besar masih berdinding kayu. Bahkan satu ruang dulunya perpustakaan, namun kini dialihfungsikan menjadi kelas karena keterbatasan fasilitas.
“Kami utamakan dulu perbaikan sementara, khususnya pada bagian atap dan plafon yang rusak, supaya pembelajaran tetap berjalan,” ungkap Kardi. Ia juga mengungkapkan bahwa sekolah dengan 161 siswa ini hanya memiliki tiga toilet dan belum memiliki mushola, menambah panjang daftar kekurangan sarana pendidikan dasar di kota ini.
Meski keterbatasan bukan hal baru, insiden ambruknya atap ruang kelas ini memaksa respons cepat dari pemerintah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda langsung turun tangan.
Kepala Disdikbud Samarinda, Asli Nuryadin, menyebut pihaknya langsung menyalurkan dana tanggap darurat dengan total anggaran sekitar Rp25 juta. “Karena ini urusan keselamatan, kami tidak menunggu perubahan anggaran. Harus cepat ditangani,” jelasnya.
Asli juga menyampaikan bahwa SDN 020 masuk dalam program peremajaan bangunan sekolah berbahan kayu yang akan dilaksanakan pada 2026. Langkah awal dilakukan dengan mengirimkan tim konsultan untuk menilai kelayakan struktur bangunan secara keseluruhan.
“Kalau hasilnya menunjukkan kondisi yang tidak aman, opsi relokasi juga kami buka. Contohnya seperti SMP 27 Batu Cermin yang harus dipindah akibat longsor,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah tidak tinggal diam terhadap kondisi sekolah-sekolah yang rusak, namun keterbatasan anggaran membuat perbaikan harus dilakukan bertahap.
“Bukan berarti kami tak peduli. Tapi harus melalui proses. Banyak sekolah lain juga sudah kami benahi secara bertahap,” pungkas Asli. (Redaksi)







