Don't Show Again Yes, I would!

Beban Biaya Masuk SMP di Samarinda Bikin Warga Resah, Andi Harun Janji Segera Evaluasi

Ilustrasi koperasi sekolah. (Istimewa)

Kosmopolitan.id, Samarinda – Para orang tua murid di SMP Negeri 8 Samarinda Seberang tengah gelisah menyusul munculnya biaya tambahan yang dianggap memberatkan.

Di luar biaya buku yang sudah ditanggung pemerintah, mereka harus merogoh kocek hingga Rp1,3 juta untuk tes psikologi, seragam, dan perlengkapan lain.

“Saya kaget, ada biaya tes psikologi Rp150 ribu yang seharusnya tidak wajib,” keluh salah satu orang tua yang enggan disebut namanya.

Ia menilai tes psikologi itu hanya beban tambahan tanpa manfaat yang jelas.

Keluhan ini sampai ke Wali Kota Samarinda, Andi Harun, yang langsung turun tangan dengan mengunjungi sekolah dan menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh.

Dirinya telah meminta agar persoalan ini seharusnya tidak boleh dibebankan kepada orang tua siswa.

”Karena itu sudah di luar kewajaran. Tapi kami juga perlu melihat permasalahan ini secara keseluruhan agar tidak menyalahkan pihak sekolah begitu saja,” kata Andi Harun. 

Tak heran ke depannya ia berjanji akan segera menggodok aturan yang mengatur pengadaan seragam dan atribut, termasuk batasan harga di koperasi sekolah. Sebab yang ia yakini, untuk pembelian seragam tidak boleh dipaksakan hanya lewat koperasi sekolah. 

“Orang tua siswa harus diberikan pilihan jadi tidak ada paksaan,” tambahnya.

Ia juga menyoroti koperasi sekolah yang diharapkan tidak mengambil keuntungan berlebihan sehingga menimbulkan kecurigaan masyarakat.

Sehingga persoalan ini pun akan ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota SamarindaDi sisi lain, Wakil Kepala Sekolah SMP 8 Samarinda, Satuna, menjelaskan bahwa sampai saat ini pihak sekolah belum memulai penjualan seragam karena proses Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) masih berlangsung dan belum ada instruksi resmi dari Dinas Pendidikan.

Terkait tes psikologi yang menjadi bagian dari biaya, Satuna mengungkapkan bahwa kegiatan ini sudah berlangsung sejak tahun lalu sebagai bagian dari program pendampingan siswa.

Tes yang dilakukan oleh tim psikolog profesional dari lembaga lokal tersebut mencakup pengukuran minat, IQ, dan pola belajar siswa.

“Hasil tes ini penting untuk membantu guru memahami karakter dan kebutuhan belajar masing-masing siswa sehingga metode pengajaran bisa disesuaikan,” ujarnya. 

Ia menambahkan, tes dilakukan dengan serius tanpa jeda panjang agar hasilnya akurat dan anak-anak bahkan diminta membawa air minum agar tetap fokus.

Meski demikian, saat disinggung soal harga perlengkapan yang dijual di koperasi sekolah, Satuna mengaku itu bukan bagian dari kewenangannya “Karena koperasi dikelola secara terpisah dan beroperasi secara mandiri,” tukas Satuna. (Redaksi) 

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Space Iklan Disewakan