Don't Show Again Yes, I would!

Konten Suara Palsu Merebak, Warga Diminta Lebih Kritis di Era Kemajuan AI

Ilustrasi konten menggunakan AI

Kosmopolitan.id, Samarinda – Di tengah kemajuan teknologi artificial intelligence (AI), masyarakat justru dihadapkan pada tantangan baru yang tak kalah serius: banjir informasi palsu yang sulit dibedakan dari kenyataan.

Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah konten manipulatif berbasis suara yang mulai marak tersebar di berbagai platform digital.Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Samarinda, Suparmin mengingatkan bahwa kemudahan membuat konten menggunakan AI telah menempatkan publik pada posisi rentan.

Ia menyebut, penyebaran suara sintetis yang menyerupai tokoh publik semakin sering ditemukan, namun kerap kali tak disertai jejak pembuat yang bisa dilacak.

“Warga sekarang harus jauh lebih waspada. Konten bisa terdengar meyakinkan, tapi ternyata palsu dan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Ia mencatat bahwa media sosial seperti TikTok dan Facebook menjadi lahan subur penyebaran konten suara palsu. Kecepatan penyebaran yang masif tak diiringi dengan kemampuan verifikasi dari para pengguna.

“Masalahnya, informasi seperti ini menyebar sangat cepat. Tidak semua orang terbiasa memeriksa kebenarannya dulu sebelum percaya atau membagikannya,” kata Suparmin.

Alih-alih menyalahkan teknologi, Suparmin menilai bahwa masyarakat perlu membangun sikap kritis. Tanpa kesadaran akan pentingnya verifikasi informasi, publik akan terus terpapar misinformasi yang disusun sedemikian rupa oleh AI.

“Kalau hanya melihat dari sisi canggihnya teknologi, kita akan lengah. Tapi kalau sadar akan tanggung jawab sebagai pengguna, itu bisa jadi pertahanan paling utama,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kemampuan manusia memilah informasi tetap menjadi kunci, sekalipun teknologi bisa menghasilkan konten dalam waktu singkat. AI, menurutnya, tetap alat bukan pengganti nalar.

“AI bisa produksi konten, tapi yang merasakan dampaknya tetap manusia. Maka, manusialah yang harus bisa memilih, apakah informasi itu layak dipercaya atau tidak,” ungkapnya.

Selain soal konten, Suparmin juga menyinggung soal ancaman di sektor ketenagakerjaan. Ia menilai, adaptasi terhadap perkembangan AI menjadi tuntutan baru bagi pekerja maupun aparatur agar tak tergilas otomatisasi.

“Yang harus dikhawatirkan bukan AI-nya, tapi kalau kita tidak meningkatkan kemampuan. Maka kita akan tertinggal,” ucapnya.

Sebagai langkah antisipasi, Diskominfo Samarinda berupaya mengembangkan sistem kecerdasan buatan lokal yang ramah masyarakat. Namun, Suparmin menekankan bahwa investasi terbesar tetap terletak pada peningkatan literasi digital warga.

“Kalau kita ingin aman dari informasi menyesatkan, tidak ada cara lain selain memperkuat kemampuan membedakan mana yang fakta, mana yang hanya manipulasi,” pungkasnya. (Redaksi) 

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Space Iklan Disewakan