Don't Show Again Yes, I would!

Mitigasi Terowongan Jadi Sorotan, Ketua Komisi III Minta Kontraktor Tidak Asal-asalan

Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar

Kosmopolitan.id, Samarinda – Proyek terowongan pertama di Samarinda kembali menjadi sorotan. Bukan sekadar insiden longsor yang sempat terjadi di sisi inlet pada Mei lalu, namun lemahnya mitigasi dari kontraktor sejak awal perencanaan. 

Sebelumnya diberitakan pada Senin (14/7/2025) lalu, Komisi III DPRD Samarinda baru saja menggelar inspeksi lapangan.

Ketua Komisi III, Deni Hakim Anwar, menilai perlu ada evaluasi serius terhadap pelaksanaan proyek yang telah menyedot anggaran hingga Rp395 miliar tersebut.

Sebab, menurutnya, indikasi kelalaian bukan datang dari pelaksanaan teknis semata, melainkan dari perencanaan yang kurang menyeluruh dalam mengidentifikasi potensi longsor.

“Ini bukan semata soal siapa yang salah, tapi bagaimana sistem kita merespons risiko. Terowongan sebesar ini tidak boleh dibangun dengan asumsi yang terlalu optimis tanpa mitigasi cadangan,” ujar Deni. 

Tak sampai disitu saja, Politikus Partai Gerindra ini juga meminta agar konsultan perencana dihadirkan dalam rapat lanjutan untuk memberikan penjelasan teknis secara rinci. Deni mengingatkan pentingnya pendekatan berbasis data geoteknik yang akurat, bukan hanya desain di atas kertas.

“Kalau tim perencana tidak punya peta risiko yang jelas, kejadian serupa bisa berulang. Kita perlu tahu betul apakah tanahnya labil, apakah ada endapan, dan bagaimana rekayasa teknis mengatasinya,” tegasnya.

Selain aspek teknis, Deni juga menyoroti efisiensi penggunaan anggaran. Apalagi, saat ini muncul wacana penambahan dana Rp39 miliar dalam APBD Perubahan untuk penanganan lanjutan.

“Kami tidak ingin perbaikan demi perbaikan menggerus anggaran tanpa arah yang jelas. Perlu roadmap yang kuat, bukan hanya tambal sulam,” imbuhnya.

Terkait fisik proyek, progres di sisi outlet disebut telah mencapai 98 persen. Namun, Deni menilai kesiapan perangkat pendukung belum memadai. Dari enam blower yang seharusnya dipasang, baru dua unit terpasang. Padahal, alat ini krusial untuk sirkulasi udara jika terowongan digunakan sepenuhnya.

Tak hanya itu, Komisi III juga mencatat rencana perubahan desain pada dinding terowongan yang dinilai terlalu tegak. Rencananya, struktur tersebut akan dibuat lebih landai untuk keamanan jangka panjang, menyusul rencana perpanjangan terowongan hingga 72 meter.

“Keselamatan harus jadi prioritas utama. Jangan tunggu ada kejadian baru bertindak. Kita perlu belajar dari yang sudah terjadi,” pungkas Deni. (ADV/DPRD/SAMARINDA)

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Space Iklan Disewakan