Kosmopolitan.id, Jakarta — Realisasi pendapatan negara hingga Februari 2025 mengalami tekanan signifikan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan pendapatan negara baru mencapai Rp 316,9 triliun, dengan penerimaan pajak sebesar Rp 187,8 triliun atau 8,6% dari target.
“Penerimaan pajak Rp 187,8 triliun atau 8,6% dari target,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers, Kamis (13/3/2025).
Pendapatan negara secara keseluruhan terkontraksi 21,48%, jauh lebih dalam dibandingkan Februari tahun lalu yang hanya minus 4,52%. Kontraksi terbesar terjadi pada penerimaan pajak, yang turun 30%, jauh lebih dalam dibandingkan kontraksi 3,93% pada 2024.
Di sisi lain, penerimaan kepabeanan dan cukai masih tumbuh tipis 2,14%. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat Rp 76,4 triliun, turun 4,15%.
Belanja negara selama dua bulan pertama 2025 mencapai Rp 348,1 triliun atau 9,6% dari target APBN. Terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 211,5 triliun dan transfer ke daerah Rp 136,6 triliun.
Situasi ini membuat APBN per Februari 2025 mencatatkan defisit sebesar Rp 31,2 triliun. Mengutip catatan tim riset CNBC Indonesia, defisit ini berbanding terbalik dengan tren tiga tahun sebelumnya yang mencatatkan surplus.
Sebagai perbandingan, pada Februari 2022 APBN surplus Rp 20 triliun, Februari 2023 melonjak menjadi Rp 132 triliun, dan Februari 2024 masih mencatatkan surplus Rp 27 triliun.
“Defisit APBN hingga akhir Februari Rp 31,2 triliun, masih dalam target desain APBN 2,53% dari PDB,” pungkas Sri Mulyani.
Perkembangan ini menunjukkan tekanan terhadap pendapatan negara, terutama dari sisi penerimaan pajak, di tengah berbagai tantangan ekonomi. (Redaksi)







