Kosmopolitan.id, Samarinda – Bantuan uang tunai bagi warga yang motornya rusak akibat BBM oplosan langsung ludes hanya dalam sehari. Pemandangan salah satunya terlihat di Kantor Kecamatan Samarinda Ulu, Jalan Juanda. Warga mulai berdatangan sejak pagi, Senin (14/4/2025), berharap bisa masuk dalam daftar penerima. Sayangnya, banyak yang kecewa karena kuota penerima dibatasi hanya 60 orang.
Informasi bantuan ini memang cepat menyebar lewat media sosial dan dari mulut ke mulut. Dalam waktu singkat, antrean panjang pun terbentuk. Bukan hanya karena nilai bantuan yang cukup berarti, tapi karena kerusakan motor berdampak langsung pada penghasilan harian warga terutama pekerja sektor informal seperti ojek online.
Anwar, pengemudi ojek daring yang sehari-hari mengandalkan motor sebagai sumber penghidupan, mengaku rugi besar setelah motornya mogok usai mengisi BBM di SPBU Juanda.
“Motor langsung mati. Total perbaikan habis sejuta lebih, sparepart-nya hampir semua diganti,” keluhnya.
Ia datang lebih awal, membawa nota dan bukti-bukti kerusakan agar tak kehilangan kesempatan. Namun tidak semua seberuntung Anwar. Ria, sesama pengemudi ojek yang juga merasakan dampaknya, nyaris tidak kebagian.
“Sudah antre dari pagi. Tadi hampir gagal gara-gara saya salah bawa surat. Untung bisa diganti sama orang lain yang salah kecamatan,” jelasnya.
Ria tak sempat menanyakan detil perbaikan ke bengkel, yang penting motornya kembali bisa digunakan bekerja. Tapi mendengar bantuan dibatasi untuk 60 orang membuatnya khawatir, karena belum tentu ada tahap selanjutnya.
“Kalau tidak cepat, ya tidak dapat. Saya sudah capek bawa bukti, ternyata kuotanya kecil banget,” sesalnya.
Meski penyaluran bantuan sudah berjalan, warga masih berharap agar Pemkot menambah kuota penerima. Sebab, dampak dari BBM oplosan ini bukan hanya menyentuh mesin, tapi juga menghantam langsung penghasilan mereka yang hidup dari jalanan.
Hanya saja dari pihak kecamatan tak bisa berbuat banyak. Camat Samarinda Ulu, Sujono, menjelaskan bahwa pembatasan penerima murni karena alokasi dana dari Pemkot yang dihitung per kecamatan. “Kami hanya menerima jatah 60 orang. Setelah itu penuh, ya kami tutup,” katanya.
Ia menyebutkan waktu pendaftaran sebenarnya dibuka hingga sore atau Sabtu mendatang, tapi kenyataannya, hanya warga yang datang lebih awal yang bisa mendaftar. Selebihnya harus menunggu keputusan lanjutan dari pemerintah kota.
“Yang sudah mendaftar tetap kami data dan verifikasi, nanti kami laporkan ke pimpinan,” pungkas Sujono. (Redaksi)







